Sunday, 3 February 2013
Friday, 18 January 2013
Tes Blogging Lagi Pakai BlogIt! App
Setelah postingan lalu dibuat direct dari web browser mozilla for mobile, which is very hard to do, postingan kali ini dibuat via aplikasi gratisan di google play yaitu BlogIt!.
Sekilas, tampaknya app ini terlalu simple. Saat kita berhasil masuk ke account google kita, cuma ada 2 pilihan window yaitu posting dan comment.
Saya lalu mencoba buat post baru dengan mengklik new post di window posting. Hmm, lumayan. At least jauh lebih baik daripada tampilan posting via browser.
Di bagian atas window edit new post ada icon standar delete, search, save dan publish. Di bagian bawahnya ada fungsi font: Bold, italic, underline, strikethrough, link, 2 fungsi html (untuk new page dan alinea baru), serta insert picture.
Saya pikir ini cukup praktis. Apalagi buat blogger kambuhan model saya. Fungsi alinea baru 'br/' buat saya sangat praktis. Jadi ga perlu ngetik kode html yang sama setiap pindah baris.
Ini contoh picture yg diinsert:
Ok deh, mungkin itu dulu first impressionnya. Besok saya lanjut lagi dengan percobaan yang lain.
Saturday, 12 January 2013
Test blogging via smartphone
Ini adalah tes blogging pakai mobile phone. Sebelumnya blog ini agak jarang diupdate karena alasan tidak punya waktu. Tapi dengan kemudahan akses melalui smartphone, kayaknya alasan ini tidak valid lagi... hehehe...
Tapi ternyata blogger.com hanya mensupport beberapa browser sesuai yang dijelaskan di website mereka. Walhasil sebelum bisa sign in, musti download dulu browser yang disupport. Dalam hal ini saya download mozilla firefox untuk android.
Setelah bersusah payah, jadi juga artikel ini. Wuah, ternyata susah ya mengetik di handphone.
Thursday, 29 March 2012
Pentingnya bertarung
"Di dalam empat tahun itulah benih-benih kesadaran akan pentingnya bertarung bagi kemenangan nasib, telah kusemai dalam hati dan pikiranku".
Ini adalah penggalan kalimat yang sangat indah dalam halaman-halaman awal buku Merry Riana, Mimpi sejuta dolar. Buku yang baru dibeli minggu lalu dan baru sempat dibaca sedikit.
Ah... jadi teringat 5 tahun yang saya habiskan untuk kuliah dulu. Ada kisah-kisah keprihatinan dan kemandirian disana. Tetapi rasanya tidak ada satu pun yang membuat benih-benih kesadaran itu muncul. Memang ada suatu waktu ketika faktor kepepet membuat keinginan untuk memulai mencari pekerjaan sampingan timbul. Tapi saat rencana ini disampaikan ke orang tua, mereka melarang dan meminta untuk tetap fokus menyelesaikan kuliah. Akhirnya ya, ngga jadi nyari kerja...
Rupanya kesadaran akan pentingnya bertarung untuk sesuatu hal yang kita yakini adalah sebuah keharusan untuk menuju kesuksesan.
Merry sangat beruntung bahwa di usianya yang masih muda saat itu dia sudah menyadari tentang hal ini. Hanya saja kesadaran itu timbul akibat kondisi yang sedemikian rupa yang mungkin saya sendiri tidak sanggup menerimanya. Nah lo, kalo kaya gitu, namanya beruntung atau bukan sih???
Saturday, 17 March 2012
Mulai menulis lagi
Setelah lama berkutat dengan perjuangan hidup sehari-hari, akhirnya mampir juga ke blog tercinta ini. Ngga terasa, ternyata sudah dari Agustus blog ini belum di update lagi.
Well, sharing aja nih. Dua hari yang lalu, selepas pulang kantor, iseng2 dengerin radio... Padahal jarang banget tuh yang namanya dengerin radio sejak bertahun-tahun yang lalu. Setelah gonta ganti channel, mampir di sebuah stasiun radio yang sedang mendatangkan narasumber Merry Riana. Somehow, tertarik juga setelah mendengar bahwa Merry sudah berpenghasilan 1 juta dolar di usia 26 tahun. Walah... jadi ingat, saat usia saya 26 tahun masih jadi staf junior di sebuah perusahaan.
Berhubung ngga konsen juga dengerin radionya, ngurusin si bayi dan kakaknya yang ngajak main, akhirnya ngga lengkap juga info tentang Merry Riana ini. Didorong oleh rasa curiosity, besoknya saya tanya mbah google... mbah, kata saya, siapa sih jeng Merry ini?
Jawaban si mbah luar biasa. Ternyata udah dari tahun lalu namanya Merry mencuat setelah menerbitkan buku berjudul Mimpi Sejuta Dolar. Banyak website yang membahas biografinya ybs, bahkan ada yang memberikan buku Merry sebagai hadiah.
Saya juga belum baca bukunya, jadi ngga tau banget soal isinya. Tapi nyontek dikit dari synopsis yang tersebar di internet, isinya bercerita tentang kehidupan seorang Merry mulai dari mengungsi ke Singapura akibat kerusuhan tahun 1998, hutang pendidikan dari pemerintah singapura hingga 40.000 dolar, hidup dengan biaya 10 dolar setiap hari, makan siang di kampus dengan setangkup roti, sampai perjuangannya untuk membangun bisnis.
Yang luar biasa adalah bagaimana Merry bekerja hingga melebihi batas-batas normal bagi kita-kita yang sudah nyaman dengan 7-8 jam kerja sehari. Diceritakan bahwa Merry bekerja 14 jam sehari, mengadakan 20 presentasi bisnis dalam sehari, dan dilakukan terus selama 7 hari seminggu. Waduh… kapan istirahatnya bu??
Tapi itulah, setelah ngintip itu, saya jadi tersadar. Semua orang bisa punya mimpi, tapi hanya sedikit sekali yang berjuang mewujudkan mimpinya. Komitmen yang ditunjukkan oleh Merry, sama dengan banyak komitmen yang saya baca dari biografi orang-orang sukses lainnya. Komitmen untuk berjuang sampai akhir. Sungguh luar biasa.
Okelah... for now, saya coba komitmen dulu untuk mengisi blog ini secara rutin. Next, semoga bisa mengikuti jejak sang motivator, mewujudkan mimpi sendiri.
Well, sharing aja nih. Dua hari yang lalu, selepas pulang kantor, iseng2 dengerin radio... Padahal jarang banget tuh yang namanya dengerin radio sejak bertahun-tahun yang lalu. Setelah gonta ganti channel, mampir di sebuah stasiun radio yang sedang mendatangkan narasumber Merry Riana. Somehow, tertarik juga setelah mendengar bahwa Merry sudah berpenghasilan 1 juta dolar di usia 26 tahun. Walah... jadi ingat, saat usia saya 26 tahun masih jadi staf junior di sebuah perusahaan.
Berhubung ngga konsen juga dengerin radionya, ngurusin si bayi dan kakaknya yang ngajak main, akhirnya ngga lengkap juga info tentang Merry Riana ini. Didorong oleh rasa curiosity, besoknya saya tanya mbah google... mbah, kata saya, siapa sih jeng Merry ini?
Jawaban si mbah luar biasa. Ternyata udah dari tahun lalu namanya Merry mencuat setelah menerbitkan buku berjudul Mimpi Sejuta Dolar. Banyak website yang membahas biografinya ybs, bahkan ada yang memberikan buku Merry sebagai hadiah.
Saya juga belum baca bukunya, jadi ngga tau banget soal isinya. Tapi nyontek dikit dari synopsis yang tersebar di internet, isinya bercerita tentang kehidupan seorang Merry mulai dari mengungsi ke Singapura akibat kerusuhan tahun 1998, hutang pendidikan dari pemerintah singapura hingga 40.000 dolar, hidup dengan biaya 10 dolar setiap hari, makan siang di kampus dengan setangkup roti, sampai perjuangannya untuk membangun bisnis.
Yang luar biasa adalah bagaimana Merry bekerja hingga melebihi batas-batas normal bagi kita-kita yang sudah nyaman dengan 7-8 jam kerja sehari. Diceritakan bahwa Merry bekerja 14 jam sehari, mengadakan 20 presentasi bisnis dalam sehari, dan dilakukan terus selama 7 hari seminggu. Waduh… kapan istirahatnya bu??
Tapi itulah, setelah ngintip itu, saya jadi tersadar. Semua orang bisa punya mimpi, tapi hanya sedikit sekali yang berjuang mewujudkan mimpinya. Komitmen yang ditunjukkan oleh Merry, sama dengan banyak komitmen yang saya baca dari biografi orang-orang sukses lainnya. Komitmen untuk berjuang sampai akhir. Sungguh luar biasa.
Okelah... for now, saya coba komitmen dulu untuk mengisi blog ini secara rutin. Next, semoga bisa mengikuti jejak sang motivator, mewujudkan mimpi sendiri.
Wednesday, 10 August 2011
Ingin berubah tapi tidak bisa (2)
Dalam tulisan terdahulu sudah saya bahas soal penciptaan pertama dalam dunia abstrak dan penciptaan kedua di dunia nyata. Kali ini saya ingin sharing soal cara kerja otak kita. Kenapa kebanyakan orang paham bahwa mereka harus berubah, tetapi sulit sekali untuk bisa benar2 mengambil langkah yang dibutuhkan untuk berubah.
Dalam sebuah perjalanan, saya dan beberapa teman berhenti di sebuah toko buku. Setelah berkeliling, saya melihat sebuah buku kecil dengan judul yang menarik. “Satu langkah sederhana dapat mengubah hidup anda”, karya Robert Maurer, Ph.d. Oke... pikir saya. Cobalah saya beli, siapa tau bermanfaat. Jadilah buku menjadi bagian koleksi saya dan sumber utama sharing saya kali ini.
Menurut Robert, ada 3 bagian dalam otak kita yaitu batang otak, otak tengah, dan korteks (yang membungkus seluruh bagian otak). Batang otak berfungsi membangunkan kita di pagi hari, tidur di malam hari dan mengingatkan jantung untuk tetap berdenyut. Otak tengah mengatur suhu tubuh, mengatur emosi, dan menentukan reaksi untuk bertahan atau melarikan diri saat menghadapi bahaya. Didalamnya ada struktur yang disebut amygdala yang dirancang untuk memberi sinyal pada tubuh untuk bereaksi terhadap bahaya yang datang tiba2. Salah satu cara kerjanya adalah memperlambat atau menghentikan fungsi-fungsi tubuh lain, seperti pemikiran rasional dan kreatif, yang dapat mengganggu kemampuan fisik untuk berlari atau bertahan. Sedangkan korteks berfungsi sebagai bagian yang rasional, dorongan kreatifitas, seni dan hal lain yang membedakan manusia dengan hewan.
Saat kita kelebihan berat badan, otak rasional kita (korteks) membuat rencana untuk berolah raga untuk menurunkan berat badan itu. Masalahnya, otak tengah dengan amygdala-nya justru membunyikan lonceng tanda bahaya. Menurut Robert, otak dirancang sedemikian rupa hingga kapan pun ada tantangan, kesempatan atau minat baru, otak akan memicu timbulnya rasa takut. Jika pada jaman dahulu manusia menemui tantangan dengan bertemu seekor singa di hutan, maka saat ini tantangan itu dapat berupa pekerjaan di tempat yang baru, secarik kertas ujian atau hanya bertemu dengan kenalan baru.
Pada dasarnya, kapanpun kita ingin meninggalkan rutinitas yang sudah biasa dan aman bagi kita, otak memicu rasa takut sehingga jalan masuk ke korteks, bagian rasional dari otak kita, menjadi terhalang. Semakin penting suatu hal itu bagi kita, semakin besar rasa takut yang ditimbulkan. Hasilnya, semakin ingin kita menurunkan berat badan, semakin berat langkah kita untuk berolah raga dan justru memilih duduk-duduk santai di depan tv.
Itulah kira-kira alasan kenapa kebanyakan orang sulit untuk berubah, walaupun tahu bahwa dia harus berubah. Sulit untuk konsisten walaupun dia tahu kalau tidak konsisten maka dia tidak akan mendapat hasil yang dia inginkan. Ada memang orang-orang yang justru menjadi hidup saat bertemu tantangan. Tapi kebanyakan dari kita bukan termasuk orang yang seperti itu.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini? Ada sebuah jalan keluar. Tapi tulisan ini akan menjadi terlalu panjang kalau saya lanjutkan. So... silahkan tunggu tulisan selanjutnya.
Dalam sebuah perjalanan, saya dan beberapa teman berhenti di sebuah toko buku. Setelah berkeliling, saya melihat sebuah buku kecil dengan judul yang menarik. “Satu langkah sederhana dapat mengubah hidup anda”, karya Robert Maurer, Ph.d. Oke... pikir saya. Cobalah saya beli, siapa tau bermanfaat. Jadilah buku menjadi bagian koleksi saya dan sumber utama sharing saya kali ini.
Menurut Robert, ada 3 bagian dalam otak kita yaitu batang otak, otak tengah, dan korteks (yang membungkus seluruh bagian otak). Batang otak berfungsi membangunkan kita di pagi hari, tidur di malam hari dan mengingatkan jantung untuk tetap berdenyut. Otak tengah mengatur suhu tubuh, mengatur emosi, dan menentukan reaksi untuk bertahan atau melarikan diri saat menghadapi bahaya. Didalamnya ada struktur yang disebut amygdala yang dirancang untuk memberi sinyal pada tubuh untuk bereaksi terhadap bahaya yang datang tiba2. Salah satu cara kerjanya adalah memperlambat atau menghentikan fungsi-fungsi tubuh lain, seperti pemikiran rasional dan kreatif, yang dapat mengganggu kemampuan fisik untuk berlari atau bertahan. Sedangkan korteks berfungsi sebagai bagian yang rasional, dorongan kreatifitas, seni dan hal lain yang membedakan manusia dengan hewan.
Saat kita kelebihan berat badan, otak rasional kita (korteks) membuat rencana untuk berolah raga untuk menurunkan berat badan itu. Masalahnya, otak tengah dengan amygdala-nya justru membunyikan lonceng tanda bahaya. Menurut Robert, otak dirancang sedemikian rupa hingga kapan pun ada tantangan, kesempatan atau minat baru, otak akan memicu timbulnya rasa takut. Jika pada jaman dahulu manusia menemui tantangan dengan bertemu seekor singa di hutan, maka saat ini tantangan itu dapat berupa pekerjaan di tempat yang baru, secarik kertas ujian atau hanya bertemu dengan kenalan baru.
Pada dasarnya, kapanpun kita ingin meninggalkan rutinitas yang sudah biasa dan aman bagi kita, otak memicu rasa takut sehingga jalan masuk ke korteks, bagian rasional dari otak kita, menjadi terhalang. Semakin penting suatu hal itu bagi kita, semakin besar rasa takut yang ditimbulkan. Hasilnya, semakin ingin kita menurunkan berat badan, semakin berat langkah kita untuk berolah raga dan justru memilih duduk-duduk santai di depan tv.
Itulah kira-kira alasan kenapa kebanyakan orang sulit untuk berubah, walaupun tahu bahwa dia harus berubah. Sulit untuk konsisten walaupun dia tahu kalau tidak konsisten maka dia tidak akan mendapat hasil yang dia inginkan. Ada memang orang-orang yang justru menjadi hidup saat bertemu tantangan. Tapi kebanyakan dari kita bukan termasuk orang yang seperti itu.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini? Ada sebuah jalan keluar. Tapi tulisan ini akan menjadi terlalu panjang kalau saya lanjutkan. So... silahkan tunggu tulisan selanjutnya.
Sunday, 7 August 2011
Ingin berubah tapi tidak bisa
Pernah ngga sih kita menginginkan sebuah perubahan terjadi dalam hidup ini? Pasti ada saat dimana kita merasa ada sesuatu yang kurang, dan oleh karena itu kita ingin berubah. Misalkan ketika perut mulai buncit dan kita sadari bahwa ini saatnya untuk mulai berolah raga. Trus kita buat jadwal olah raga, tiga hari dalam seminggu yaitu setiap hari minggu, selasa, dan jumat. Tidak lupa menyiapkan alat2 yang dibutuhkan, minimal sepatu olah raga buat lari2 kecil. Tapi ketika hari minggu tiba, kita merasa sayang untuk melewatkan hari istirahat ini dengan bercapek2 lari. Akhirnya bablas lah jadwal hari minggu... dan hari2 yang lain.
Kenapa yah bisa begitu? Well, dari contoh di atas (dan dalam banyak kasus) masalahnya ada di konsistensi untuk terus maju menjalankan apa yang sudah kita niatkan. Dalam sebuah tulisan singkat Andreas Harefa yang pernah saya dapat di email saya, kunci sukses itu ada 3, yaitu mimpi, yakin dan tekun. Saat impian sudah terbayang, dan merasa yakin bahwa mimpi itu dapat kita raih dengan suatu usaha, maka saatnya untuk tekun melakukan usaha tersebut. Tetapi kebanyakan orang berhenti di mimpi dan yakinnya saja. Coba ingat2, berapa banyak anda punya impian tentang sesuatu dan yakin bahwa ada sebuah cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan impian itu. Tetapi saat harus merealisasikannya, anda berhenti dengan banyak alasan. Ngga punya waktu lah, capek, ngga bisa fokus, stress dan lain2.
Padahal impian dan keyakinan ada dalam dunia abstrak. Dua hal tersebut tidak riil. Dalam istilah Stephen Covey, dua hal tersebut adalah penciptaan pertama. Sebuah blue print, sama seperti gambar denah rumah yang akan dibangun di atas tanah kosong. Untuk mewujudkannya dalam dunia nyata, dunia kita, kita harus mulai membeli material yang dibutuhkan, menyewa tukang, mengawasi pengerjaannya, interior, exterior, sampai sentuhan terakhir. Inilah penciptaan kedua, inilah yang dimaksud dengan tekun. Bisa dibayangkan bila anda berhenti di tengah jalan saat sedang membangun rumah. Apa yang kita dapat bila kita berhenti? Hanya capek dan lelah. Rumah belum jadi, biaya sudah keluar, tenaga sudah terkuras.
Faktanya, sebagian orang mungkin sudah paham akan hal ini. Sama seperti orang yang sudah paham bahwa untuk mengurangi berat badan maka harus melakukan olah raga atau diet. Tapi toh tidak semua orang melakukan hal yang harus dilakukan untuk memperoleh hal yang mereka impikan. Kenapa sih? Tunggu tulisan selanjutnya ya.... hehehhe...
Kenapa yah bisa begitu? Well, dari contoh di atas (dan dalam banyak kasus) masalahnya ada di konsistensi untuk terus maju menjalankan apa yang sudah kita niatkan. Dalam sebuah tulisan singkat Andreas Harefa yang pernah saya dapat di email saya, kunci sukses itu ada 3, yaitu mimpi, yakin dan tekun. Saat impian sudah terbayang, dan merasa yakin bahwa mimpi itu dapat kita raih dengan suatu usaha, maka saatnya untuk tekun melakukan usaha tersebut. Tetapi kebanyakan orang berhenti di mimpi dan yakinnya saja. Coba ingat2, berapa banyak anda punya impian tentang sesuatu dan yakin bahwa ada sebuah cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan impian itu. Tetapi saat harus merealisasikannya, anda berhenti dengan banyak alasan. Ngga punya waktu lah, capek, ngga bisa fokus, stress dan lain2.
Padahal impian dan keyakinan ada dalam dunia abstrak. Dua hal tersebut tidak riil. Dalam istilah Stephen Covey, dua hal tersebut adalah penciptaan pertama. Sebuah blue print, sama seperti gambar denah rumah yang akan dibangun di atas tanah kosong. Untuk mewujudkannya dalam dunia nyata, dunia kita, kita harus mulai membeli material yang dibutuhkan, menyewa tukang, mengawasi pengerjaannya, interior, exterior, sampai sentuhan terakhir. Inilah penciptaan kedua, inilah yang dimaksud dengan tekun. Bisa dibayangkan bila anda berhenti di tengah jalan saat sedang membangun rumah. Apa yang kita dapat bila kita berhenti? Hanya capek dan lelah. Rumah belum jadi, biaya sudah keluar, tenaga sudah terkuras.
Faktanya, sebagian orang mungkin sudah paham akan hal ini. Sama seperti orang yang sudah paham bahwa untuk mengurangi berat badan maka harus melakukan olah raga atau diet. Tapi toh tidak semua orang melakukan hal yang harus dilakukan untuk memperoleh hal yang mereka impikan. Kenapa sih? Tunggu tulisan selanjutnya ya.... hehehhe...
Subscribe to:
Posts (Atom)